TANTANGAN ORANG TUA DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK DI TENGAH PENGARUH MEDIA SOSIAL

TANTANGAN ORANG TUA DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK DI TENGAH PENGARUH MEDIA SOSIAL

OLEH:

 SITI RAHMAWATI PANYUE, MURHIMAH A.KAU,S.PSI., M.SI, PSIKOLOG

Ilustrasi : Milik Siti Rahmawati Panyue

ABSTRAK

Saat ini media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak kini turut menggunakan sosial media. Tetapi dengan penggunaannya yang luas, hal ini bisa membawa dampak positif dan negatif, apalagi bagi anak-anak yang sedang dalam fase pembentukan kepribadian. Artikel ini bertujuan untuk membahas bagaimana tantangan yang dihadapi para orang tua dalam membentuk kepribadian anak di era digital khususnya di tengah pengaruh media sosial. Metode yang digunakan adalah metode studi pustaka dengan menelaah beberapa jurnal yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa ada beberapa dampak dari media sosial yang mempengaruhi perkembangan kepribadian anak, tetapi keluarga tetap menjadi faktor utama yang membentuk kepribadian anak yang sehat.

Kata kunci: orang tua, membentuk kepribadian anak, pengaruh media sosial

 

PENDAHULUAN

Anak-anak di zaman sekarang tumbuh dan berkembang di tengah kemajuan teknologi yang pesat, dan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Banyak platform seperti Tiktok, Instagram, dan Youtube memudahkan mereka mendapatkan informasi tentang dunia luar, tetapi di sisi lain juga membuat mereka terpapar berbagai konten yang tidak sesuai dengan usianya. Dan akhirnya anak-anak mulai meniru tingkah laku yang mereka lihat dari konten-konten yang ada tanpa tahu menyaring antara mana yang benar dan salah.

Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak. tetapi dengan perkembangan teknologi yang semakin maju hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua, karena tidak semua orang tua paham dengan cara kerja teknologi yang anak-anak mereka gunakan. Selain itu jika lingkungan keluarga anak memperlihatkan kebiasaan yang buruk sedari dia kecil maka besar kemungkinan hal itu akan membentuk kepribadiannya Ketika dewasa nanti, begitupun juga sebaliknya (Samsudin, 2019).

Menurut mukramin (2018), remaja dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terpapar pengaruh dari media sosial karena rasa keingin tahuaan yang tinggi, tetapi kemampuan menyaring informasi mereka masih rendah. Oleh karena keluarga khususnya orang tua mempunyai tangguang jawab yang besar untuk membimbing mereka agar tetap pada nilai moral dan budaya yang baik.

Dengan demikian pendekatan ini diharapkan dapat membantu anak menjadi pribadi yang berkarakter dan bijak dalam menggunakan media sosial serta bisa beradaptasi dengan kemajuan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai positif yang di ajarkan oleh keluarga.

 

METODE PENELITIAN

Artikel ini disusun menggunakan metode studi pustaka, yaitu dengan mengumpulkan data dari berbagai reverensi yang relevan. yang membahas pengaruh media sosial terhadap perilaku anak dan peran orang tua dalam membentuk kepribadian anak. Data dari sumber-sumber tadi di analisis secara deskriptif agar bisa memahami tantangan yang di hadapi orang tua dan apa yang dapat di lakukan dalam menghadapi pengaruh media sosial terhadap anak.

  

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Media Sosial Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak

Media sosial memberikan dampak besar terhadap pola pikir dan perlakuan anak. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat, baik berupa gaya bahasa, gaya berpakaian, maupun cara berinteraksi dengan orang lain. Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat mengakibatkan anak menjadi individualis dan kehilangan empati terhadap lingkungan sekitarnya. Selain itu media sosial juga seringkali menampilkan standar hidup yang tidak realistis, seperti popularitas dan kemewahan yang mana hal ini bisa membuat anak merasa rendah diri jjika tidak bisa menirunya. Sehingga akhirnya anak-anak mulai membentuk citra yang bergantung pada pengakuan dunia maya dan bukan dari hal-hal positif seperti yang telah di ajarkan oleh keluarga. Namun, media sosial tidak selalu berdampak negatif. Jika digunakan secara tepat, anak dapat belajar berbagai hal positif, seperti kreativitas, keterampilan berbicara, dan kemampuan bekerja sama melalui platform digital. Akan tetapi, jika tidak ada pengawasan, media sosial dapat membuat anak kehilangan jati diri karena mereka lebih sering meniru figur publik yang tidak selalu memberikan contoh baik Anak-anak yang belum matang secara emosional akan mudah terpengaruh oleh tren, sehingga nilai moral yang seharusnya ditanamkan keluarga menjadi terabaikan Karena itu, peran orang tua sangat penting dalam membimbing anak menggunakan media sosial dengan bijak.

Peran Keluarga Sebagai Fondasi Pembentukan Kepribadian

Keluarga memiliki peran utama dalam membentuk kepribadian anak. Sejak kecil, anak belajar dari perilaku orang tua dan anggota keluarga lainnya. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, empati, kejujuran, dan sopan santun pertama kali diperoleh dari lingkungan keluarga Orang tua yang memberikan teladan positif akan mendorong anak meniru perilaku baik tersebut. Sebaliknya, orang tua yang sering menunjukkan perilaku negatif berpotensi menjadi contoh yang buruk bagi anak. hubungan keluarga yang harmonis menjadi dasar utama dalam pembentukan karakter anak, Keluarga yang memiliki komunikasi terbuka akan membantu anak mengungkapkan perasaan dan permasalahan yang dihadapinya, termasuk yang berkaitan dengan penggunaan media sosial. Anak yang merasa didengar dan diperhatikan oleh orang tuanya cenderung memiliki kepribadian yang stabil dan tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan luar.

Pola asuh orang tua berperan besar dalam membentuk sikap sosial anak. Pola asuh yang demokratis, yang menyeimbangkan antara kebebasan dan tanggung jawab, terbukti efektif dalam membantu anak belajar disiplin dan mandiri. Melalui pola asuh ini, orang tua tidak hanya memberi peraturan, tetapi juga menjelaskan alasan di balik aturan tersebut, sehingga anak dapat memahami nilai moral yang mendasarinya. Lingkungan keluarga juga berfungsi sebagai tempat anak belajar mengelola emosi. Anak yang tumbuh dalam keluarga penuh kasih sayang akan lebih mudah menyesuaikan diri dan membangun hubungan sosial yang baik. Sebaliknya, anak yang kurang mendapat perhatian cenderung mencari pengakuan dari luar, termasuk dari media sosial. Oleh sebab itu, peran keluarga dalam mendampingi anak selama proses perkembangan kepribadian sangatlah penting agar anak tidak kehilangan arah di tengah arus informasi digital

Tantangan Yang Dihadapi Orang Tua Di Era Digital

Di era teknologi yang serba cepat, banyak orang tua menghadapi tantangan besar dalam menjalankan peran mereka. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya literasi digital pada orang tua. Sebagian orang tua tidak memahami aplikasi yang digunakan anak, sehingga mereka kesulitan memantau aktivitas digital anak-anaknya. Bahkan ada orang tua yang membiarkan anak menggunakan gadget tanpa batas waktu karena dianggap sebagai cara mudah untuk menenangkan anak. Perbedaan generasi antara orang tua dan anak menyebabkan kesenjangan komunikasi. Anak-anak tumbuh dalam budaya digital yang dinamis, sementara banyak orang tua masih terbiasa dengan cara komunikasi konvensional. Kondisi ini membuat orang tua sulit menjangkau dunia anak, apalagi membatasi aktivitasnya di media sosial. Akibatnya, banyak anak lebih nyaman berbagi cerita kepada teman di dunia maya dari pada kepada orang tua mereka.

Tantangan lain yang sering muncul adalah kebingungan orang tua dalam mengatur batasan penggunaan media sosial. Pengawasan yang terlalu ketat dapat menimbulkan perlawanan dari anak, sementara pengawasan yang longgar justru berisiko membuat anak kecanduan, Orang tua dituntut untuk menemukan keseimbangan antara memberikan kebebasan dan menjaga tanggung jawab anak. sebagian orang tua merasa khawatir dikatakan “ketinggalan zaman” jika melarang anak menggunakan media sosial, padahal yang dibutuhkan hanyalah bimbingan dan pengawasan yang bijak. Selain itu, perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat orang tua sulit beradaptasi Aplikasi dan tren baru muncul hampir setiap bulan, membuat banyak orang tua tertinggal informasi. Nurlina (2019), menyebutkan bahwa anak usia sekolah dasar kini sudah aktif membuat konten di media sosial, sementara orang tua bahkan tidak tahu cara memeriksa riwayat aktivitas daring mereka. Tantangan ini menegaskan bahwa pendidikan bagi anak harus dibarengi dengan peningkatan literasi digital bagi orang tua.

Studi Kasus: Pengaruh Media Sosial Terhadap Kepribadian Anak

Rafi adalah seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang duduk di kelas lima sekolah dasar. Baru-baru ini, ia mulai menunjukkan perubahan dalam cara berperilaku, yang terlihat sejak ia semakin sering menggunakan media sosial. Awalnya, orang tuanya memberi akses ponsel kepada Rafi untuk keperluan belajar daring, tetapi lama kelamaan, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk menonton video di TikTok dan YouTube.

Awalnya, penggunaan media sosial itu dianggap biasa.Namun, seiring berjalannya waktu, orang tua mulai terlihat perubahan pada sikap dan cara Rafi berinteraksi. Ia menjadi lebih pendiam di rumah, lebih mudah tersinggung ketika diminta berhenti bermain ponsel, dan sering meniru gaya berbicara serta tingkah laku dari influencer remaja yang tidak sesuai dengan usianya. Ia mulai menggunakan kata-kata kasar yang ia temui dalam konten hiburan, serta mudah marah ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Di sekolah, guru melaporkan bahwa Rafi jadi kurang fokus, sering merasa lelah, dan jarang berinteraksi dengan teman sebaya. Ia lebih asyik berbicara tentang tren media sosial daripada mengikuti pelajaran. Bahkan, beberapa kali ia mengunggah konten tantangan yang berisiko tanpa memahami bahayanya. Ketika orang tuanya mencoba membatasi penggunaan ponsel Rafi, ia menolak dan menunjukkan perilaku emosional seperti tantrum. Hal ini terjadi karena sebelumnya tidak ada kesepakatan tentang waktu penggunaan gadget, serta kurangnya literasi digital orang tua yang membuat mereka sulit memahami apa yang sedang diakses.

Situasi ini membuat orang tua merasa bingung. Mereka tidak tahu harus bagaimana mengembalikan perilaku Rafi tanpa menimbulkan konflik. Mereka juga menyadari bahwa Rafi lebih percaya pada konten digital dibandingkan pada nasihat dari keluarga. Kondisi ini menjadi tantangan besar karena nilai-nilai moral dan kebiasaan yang selama ini ditanamkan di rumah mulai pudar akibat paparan media sosial yang tidak terkontrol.

Strategi Orang Tau Dalam Membentuk Kepribadian Anak

Menghadapi berbagai tantangan tersebut, orang tua perlu menerapkan strategi yang efektif untuk membentuk kepribadian anak di tengah pengaruh media sosial. Penting bagi orang tua menjadi teladan digital bagi anak. Jika orang tua menggunakan media sosial secara positif, anak akan belajar untuk meniru perilaku yang sama. Misalnya, dengan menggunakan media sosial untuk mencari ilmu, berbagi kebaikan, dan menunjukkan sopan santun dalam berkomunikasi. Selain itu, komunikasi terbuka sangat penting agar anak merasa dipercaya dan mau berbagi cerita tentang pengalaman digitalnya. Orang tua perlu menciptakan suasana yang nyaman untuk berdiskusi tentang apa yang anak lihat atau alami di dunia maya. Orang tua juga perlu membuat kesepakatan waktu penggunaan gadget bersama anak, sehingga anak belajar disiplin dan memahami batasan.

Penanaman nilai moral dan agama sejak dini menjadi pondasi penting dalam membentuk kepribadian anak. Nilai-nilai seperti jujur, tanggung jawab, dan menghormati orang lain harus diajarkan secara konsisten agar anak memiliki pedoman ketika berhadapan dengan pengaruh luar, selain itu literasi digital bagi orang tua sama pentingnya dengan pendidikan karakter bagi anak. Orang tua yang paham teknologi akan lebih mudah mengarahkan anak memilih konten positif dan menghindari paparan negatif. dukungan emosional juga menjadi kunci penting. Orang tua yang hadir secara fisik dan emosional akan membuat anak merasa aman dan diterima, sehingga mereka tidak perlu mencari pengakuan di media sosial.

Dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, orang tua tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pembimbing yang mendampingi anak tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab dan bijak menggunakan media sosial. Pendekatan yang seimbang antara kasih sayang, ketegasan, dan literasi digital akan membantu anak menghadapi dunia modern tanpa kehilangan jati dirinya sebagai pribadi yang berkarakter.

 

KESIMPULAN

Media sosial membawa pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian anak di era digital. Di satu sisi, media sosial dapat memberikan manfaat positif seperti sumber belajar dan sarana kreativitas, namun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan perilaku negatif seperti meniru gaya hidup yang tidak sesuai, kecanduan, dan menurunnya kemampuan sosial. Dalam menghadapi hal ini, orang tua memiliki peran yang sangat penting sebagai pengarah, pembimbing, dan teladan utama bagi anak. rang tua harus mampu membangun komunikasi yang baik, memahami dunia digital anak, serta menanamkan nilai moral dan agama sejak dini.

Selain itu, kemampuan literasi digital orang tua menjadi kunci dalam mendampingi anak menggunakan media sosial secara bijak. Orang tua yang memahami cara kerja teknologi dapat mengontrol sekaligus memberi kebebasan secara seimbang. Dengan keterlibatan aktif, pengawasan yang penuh kasih, dan contoh nyata dari orang tua, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat, bijak berteknologi, dan tetap berpegang pada nilai moral dalam kehidupan sosialnya.


DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, E. B. (1978). Perkembangan anak jilid 2. Penerbit Erlangga.

Rahmalia, S. M., & Laeli, S. (2024). Pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan kepribadian anak. Karimah Tauhid, 3(9), 10007-10018.

Nurlina, N. (2019). Peran Orang Tua dalam Pembentukan Kepribadian Anak di Era Digital. An-Nisa, 12(1), 549-559.

Pebriani, M., & Darmiyanti, A. (2024). Pengaruh media sosial terhadap perkembangan anak usia dini dan tinjauan dari psikologi perkembangan. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 1(3), 9-9.

Mukramin, S. U. (2018). Dampak media sosial terhadap perilaku sosial anak di Kota Makassar. Jurnal Pendidikan Sosiologi, 6(2), 86-94.

br Sihotang, D. S., & Anggraini, N. (2025). Peran Orang Tua Di Dalam Membangun Karakter Anak Sejak Dini. Advances in Education Research, 1(2), 129-133.

Samsudin, S. (2019). Pentingnya peran orangtua dalam membentuk kepribadian anak. SCAFFOLDING: Jurnal Pendidikan Islam Dan Multikulturalisme, 1(2), 50-61.

Utami, R. D., & Ikhwana, N. S. (2022). Dampak penggunaan media sosial tiktok terhadap kepribadian anak usia dini. Jurnal Kewarganegaraan, 6(3), 5864-5871.

Marlina, M. (2018). Pengaruh media sosial terhadap intensitas hubungan komunikasi orang tua dan anak usia dini. Komunikasiana: Journal of Communication Studies, 1(1).

Nurhabibah, S., Sari, H. P., & Fatimah, S. (2025). Pendidikan Karakter di Era Digital: Tantangan dan Strategi dalam Membentuk Generasi Berakhlak Mulia. Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Agama Islam3(3), 194-206.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak